Laman

Jumat, 16 November 2012

Konsep Diri


IDENTITAS DIRI

A. Konsep Identitas Diri
Dalam Kozier (2010) disebutkan bahwa Identitas diri atau identitas personal individu merupakan sensasi individualitas dan keunikan yang disadari secara kontinu muncul sepanjang hidup. Individu sering kali  memandang identitas mereka dengan nama, jenis kelamin, usia, ras, asal etnis atau budaya, pekerjaan atau peran, bakat, dan karakteristik situsional lainnya (misalnya status perkawinan dan pendidikan). Identitas diri berarti timbulnya kesadaran yang merupakan hasil dari observasi terhadap diri sendiri yang merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Identitas diri adalah kesadaran atau keunikan dirinya sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian diri sendiri, identitas ditandai dengan kemampuan memandang diri sendiri berbeda dengan orang lain, mempunyai percaya diri, dapat mengontrol diri sendiri, mempunyai persepsi tentang peran serta citra diri (Primawan, 2011).
Identitas personal juga mencakup keyakinan dan nilai, kepribadian, dan karakter. Sebagai contoh, apakah seseorang percaya diri, bersahabat, berhati-hati, ataukah egois? Oleh karena itu, identitas personal terdiri dari identitas yang nyata dan faktual, seperti nama dan jenis kelamin, dan yang tidak nyata seperti nilai dan keyakinan. Identitas adalah sesuatu yang membedakan diri sendiri dari orang lain (Kozier, 2010).
Individu yang memiliki rasa identitas yang kuat mengintegrasikan citra tubuh, peforma peran, dan harga diri ke dalam konsep diri sepenuhnya. Rasa identitas ini memberi individu sensasi kontinuitas dan kesatuan kepribadian. Selain itu, individu memandang dirinya sendiri sebagai orang yang unik (Kozier, 2010).
B. Stresor Identitas
Menurut Potter dan Perry (2010), stresor akan mempengaruhi identitas seseorang sepanjang hidupnya, tapi biasanya individu menjadi rentan pada masa remaja. Remaja berusaha menyesuaikan diri rerhadap perubahan fisik, emosional, dan mental akibat proses pematangan, yang menghasilkan ketidak amanan dan rasa cemas. Hal ini merupakan saat dimana remaja mengembangkan kompetensi psikososial, termasuk strategi koping.
Orang dewasa biasanya memiliki identitas yang lebih stabil dan kuat dalam mengembangkan konsep diri. Dibandingkan dengan tekanan personal, budaya, dan tekanan sosial, memiliki dampak yang lebih besar bagi identitas individu dewasa. Sebagai contoh, orang dewasa harus bisa menyeimbangkan antara karir dan keluarga, atau membuat pilihan terhadap kehormatan tradisi keagamaan dari salah satu asal keluarga.
Stresor yang mempengaruhi identitas: 
  • Perubahan penampilan fisik (misalnya: kerut di wajah)
  • Penurunan kemampuan fisik, mental dan sensori
  • žKetidakmampuan mencapai tujuan
  • žMasalah dalam hubungan
  • žMasalah seksualitas
  • žIdeal diri tidak realitas
C. Karakteristik identitas diri
Karakteristik identitas diri dapat dimunculkan dari prilaku dan perasaan seseorang, seperti (Geoklik, 2012):
  • Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang terpisah dan berbeda dengan orang lain
  • Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya
  • Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya, peran, nilai dan prilaku secara harmonis
  • Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai dengan penghargaan lingkungan sosialnya
  • Individu sadar akan hubungan masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang
  • Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan di realisasikan (Meler dikutip Stuart and Sudeen, 1991)
D. Perilaku akan Identitas
Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu dapat ditandai dengan (Geoklik, 2012):
  1. Memandang dirinya secara unik
  2. Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain
  3. Merasakan otonomi: menghargai diri, percaya diri, mampu diri, menerima diri dan dapat mengontrol diri.
  4. Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, peran dan konsep diri
E. Tanda dan gejala terganggunya identitas diri
Ganguan identitas adalah ketidakpastian memandang diri sendiri, penuh dengan keraguan, sukar menetapkan keinginan dan mengambil keputusan. Menurut Primawan (2011), pada klien yang dirawat dirumah sakit karena penyakit fisik maka identitas dapat tergangu karena :
      Tubuh klien dikontrol oleh orang lain, misalnya pelaksanaan tindakan operasi tanpa persetujuan dan penjelasan kepada klien.
      Ketergantungan pada orang lain.
      Perubahan  peran dan fungsi : klien menjalankan peran sakit, jadi peran sebelumnya tidak bisa dijalankan.

F. Kebingungan Identitas
Kebingungan identitas (identity confusions) timbul saat individu tidak dapat mempertahankan kesadaran identitas personal yang bersih, konsisten, dan terus menerus (Potter&Perry, 2010).



DAFTAR PUSTAKA
 
Kozier, Erb, Berman, Snyder. 2010. Buku ajar fundamental keperawatan (Ed.7 vol.2). Jakarta: EGC.
Potter, Perry. 2010. Fundamental keperawatan (ed.7vol.2). Jakarta: Salemba Medika.
Primawan. 2011. Konsep diri. Diakses dari http://www.slideshare.net/PrimawanJunior/konsep-diri-9501363

Tidak ada komentar:

Posting Komentar