IDENTITAS DIRI
A. Konsep Identitas Diri
Dalam
Kozier (2010) disebutkan bahwa Identitas
diri atau identitas personal individu merupakan sensasi individualitas dan
keunikan yang disadari secara kontinu muncul sepanjang hidup. Individu sering
kali memandang identitas mereka dengan
nama, jenis kelamin, usia, ras, asal etnis atau budaya, pekerjaan atau peran,
bakat, dan karakteristik situsional lainnya (misalnya status perkawinan dan
pendidikan). Identitas diri berarti timbulnya kesadaran yang merupakan hasil
dari observasi terhadap diri sendiri yang merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Identitas diri adalah
kesadaran atau keunikan dirinya sendiri yang bersumber dari observasi dan
penilaian diri sendiri, identitas ditandai dengan kemampuan memandang diri
sendiri berbeda dengan orang lain, mempunyai percaya diri, dapat mengontrol
diri sendiri, mempunyai persepsi tentang peran serta citra diri
(Primawan, 2011).
Identitas
personal juga mencakup keyakinan dan nilai, kepribadian, dan karakter. Sebagai
contoh, apakah seseorang percaya diri, bersahabat, berhati-hati, ataukah egois?
Oleh karena itu, identitas personal terdiri dari identitas yang nyata dan
faktual, seperti nama dan jenis kelamin, dan yang tidak nyata seperti nilai dan
keyakinan. Identitas adalah sesuatu yang membedakan diri sendiri dari orang lain
(Kozier, 2010).
Individu
yang memiliki rasa identitas yang kuat mengintegrasikan citra tubuh, peforma
peran, dan harga diri ke dalam konsep diri sepenuhnya. Rasa identitas ini
memberi individu sensasi kontinuitas dan kesatuan kepribadian. Selain itu, individu
memandang dirinya sendiri sebagai orang yang unik (Kozier, 2010).
B. Stresor Identitas
Menurut
Potter dan Perry (2010), stresor akan mempengaruhi identitas seseorang
sepanjang hidupnya, tapi biasanya individu menjadi rentan pada masa remaja. Remaja
berusaha menyesuaikan diri rerhadap perubahan fisik, emosional, dan mental
akibat proses pematangan, yang menghasilkan ketidak amanan dan rasa cemas. Hal
ini merupakan saat dimana remaja mengembangkan kompetensi psikososial, termasuk
strategi koping.
Orang
dewasa biasanya memiliki identitas yang lebih stabil dan kuat dalam
mengembangkan konsep diri. Dibandingkan dengan tekanan personal, budaya, dan
tekanan sosial, memiliki dampak yang lebih besar bagi identitas individu
dewasa. Sebagai contoh, orang dewasa harus bisa menyeimbangkan antara karir dan
keluarga, atau membuat pilihan terhadap kehormatan tradisi keagamaan dari salah
satu asal keluarga.
Stresor
yang mempengaruhi identitas:
- Perubahan penampilan fisik (misalnya: kerut di wajah)
- Penurunan kemampuan fisik, mental dan sensori
- Ketidakmampuan mencapai tujuan
- Masalah dalam hubungan
- Masalah seksualitas
- Ideal diri tidak realitas
C. Karakteristik identitas diri
Karakteristik identitas diri dapat dimunculkan dari prilaku dan perasaan
seseorang, seperti (Geoklik, 2012):
- Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang terpisah dan berbeda dengan orang lain
- Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya
- Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya, peran, nilai dan prilaku secara harmonis
- Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai dengan penghargaan lingkungan sosialnya
- Individu sadar akan hubungan masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang
- Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan di realisasikan (Meler dikutip Stuart and Sudeen, 1991)
D. Perilaku akan Identitas
Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu dapat
ditandai dengan (Geoklik, 2012):
- Memandang dirinya secara unik
- Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain
- Merasakan otonomi: menghargai diri, percaya diri, mampu diri, menerima diri dan dapat mengontrol diri.
- Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, peran dan konsep diri
E. Tanda dan gejala terganggunya
identitas diri
Ganguan identitas adalah
ketidakpastian memandang diri sendiri, penuh dengan keraguan, sukar menetapkan
keinginan dan mengambil keputusan. Menurut Primawan
(2011), pada klien yang
dirawat dirumah sakit karena penyakit fisik maka identitas dapat tergangu
karena :
• Tubuh klien dikontrol oleh orang lain, misalnya
pelaksanaan tindakan operasi tanpa persetujuan dan penjelasan kepada klien.
• Ketergantungan pada orang lain.
• Perubahan peran dan
fungsi : klien menjalankan peran sakit, jadi peran sebelumnya tidak bisa
dijalankan.
F. Kebingungan Identitas
Kebingungan
identitas (identity confusions)
timbul saat individu tidak dapat mempertahankan kesadaran identitas personal
yang bersih, konsisten, dan terus menerus (Potter&Perry, 2010).
DAFTAR PUSTAKA
Kozier,
Erb, Berman, Snyder. 2010. Buku ajar
fundamental keperawatan (Ed.7 vol.2).
Jakarta: EGC.
Potter,
Perry. 2010. Fundamental keperawatan
(ed.7vol.2). Jakarta: Salemba Medika.
Primawan.
2011. Konsep diri. Diakses dari http://www.slideshare.net/PrimawanJunior/konsep-diri-9501363
Tidak ada komentar:
Posting Komentar